Kamis, 02 Oktober 2014

No need caption, just painfull

Hai kamu… ya, kamu yang lagi baca. Kamu tau gak apa hal yang paling menyenangkan yang pernah kami lakukan bersama? Ya, kami. Aku, dan imajinasiku, tentang perasaan yang tulus akan selalu berbalas indah.

Kami berdua suka membunuh realita bersama-sama dengan prinsip "Cinta itu indah".
Lalu aku menyadari kalau imajinasiku sendiri yang merubahku menjadi sampah.

Apakah saat ini kau sedang merasakan cinta? Nikmatilah.

Apakah kau adalah orang yang terlalu bodoh untuk tidak mengungkapkan perasaanmu? Tak apa, mungkin lebih baik jika terus seperti itu. Karena terkadang realita bisa sangat menakutkan. Dan hasilnya, kau akan kehilangan tempat di zona amanmu yang berjudul 'friend'.

Apakah kau sedang menjalin komitmen dengan seseorang? Dan apakah kau sedang mengalami konflik dengannya? Pertahankan, mungkin lebih baik jika kau menunggu hingga akhirnya dia yang akan mengakhirinya dan akan berakhir patah hati.

Atau mungkin kau yang akan mengakhirinya lalu menyesal kemudian? Percayalah, itu akan menjadi jauh lebih sakit.

Atau, kita sedang merasakan keadaan yang sama? Tersakiti.

Jika kau juga merasakan hal yang sama, silahkan melanjutkan membaca tulisan ini. Mungkin kita memiliki hal-hal yang bisa kita bagi untuk meringankan rasa sakit itu? 

---

Apakah kau ingat saat kau sedang asik bermain dengan imajinasimu tanpa kenal apa itu batas dan lupa seperti apa rasanya sesak karena dikecewakan?

Apa yang terjadi saat kau tau bahwa ternyata dia dalam dunia nyata tidak sesuai dengan ekspetasimu? Kecewa. Dan kecewa itu sakit. Hanya itu.

Saat setiap hal yang kau lakukan. Dalam setiap darah yang kau pompa dengan jantung, dalam setiap oksigen yang paru-parumu hirup, dan setiap senyuman yang terbentuk saat memikirkannya. Hanya untuknya. Orang yang kau anggap sebagai sang 'the one'. Lalu mendadak orang itu pergi begitu saja, apa yang terjadi? Kehilangan. Dan kehilangan itu sakit. Lagi.

Saat kau rapuh dan satu satunya alasanmu bertahan hanyalah dia, orang yang kau anggap sebagai sang 'the one' lalu dia mendadak tak ingin bersamamu, apa yang terjadi? Kecewa. Dan kecewa itu sakit. Untuk sekian kalinya.

Cinta adalah bagaimana cara kita bertahan dari rasa sakit.

Aku tidak memaksa kalian untuk setuju dengan opini ini, karena aku sedang mencoba untuk membantu diriku sendiri. Karena rasa sesak ini terlalu perih bila dipikul sendiri.

Jika cinta menurut versimu adalah soal kenalan lalu saling mencintai dan kemudian pacaran lalu akhirnya menikah dan bahagia hingga jokowi jadi boyband merangkap penyanyi dangdut suatu hari nanti yang itu artinya sama dengan kalian akan bahagia selamanya. Terserah. Aku gak bilang itu salah karena kita semua punya versi kita masing-masing.

Cinta menurut versiku adalah saat kau telah mencapai tingkat tertinggi dari toleransi yang khusus untuknya.

Saat kau bisa menelan mentah-mentah semua bualan dari orang yang kau cintai tanpa merasa ingin muntah.

Saat walau kau tahu jika ingin berdiri disampingnya kau harus menginjak paku dan pecahan kaca tanpa alas namun kau tetap melakukannya.

Lalu saat seseorang mendengar kisahmu lalu bertanya "mengapa kau masih tetap bertahan?" Kau tidak akan mampu mendapatkan jawaban yang benar-benar tepat karena itu bukanlah sebuah pertanyaan yang bisa kau selesaikan saat sedang berjuang. Dan satu-satunya hal yang bisa kau katakan pada orang itu adalah "entahlah, coba tanyakan pada orang yang sudah menyerah mempertahankan kebahagiaannya".

Tapi menurutku, itulah inti dari mencintai dan mengikat komitmen pada seseorang.

Karena mencintai menurutku adalah tentang seberapa hebat kau mampu bertahan dari rasa sakit yang dia berikan. Karena kisah cinta yang indah akan selalu kokoh diatas rasa sakit sebagai penegaknya.  

Lalu apa yang terjadi disaat semua perjuanganmu dipaksa untuk berhenti? Menurutku tidak ada jalan yang lebih indah dari melepaskan.

Let it go… relakan, satu-satunya hal yang kau harus kau lakukan adalah merelakan. Aku sudah bertekad pada diriku sendiri bahwa aku gak akan memberikan siapapun second chance.

Memberikan kesempatan kedua sama aja seperti memberi seseorang benih luka baru untuk ditanam lagi. Dihatimu.

Aku bukannya pesimis, tapi itulah yang terjadi pada mayoritas si pemaaf. Mereka cenderung berfikir dengan memberikan second chancenya, orang itu akan berubah menjadi lebih baik.

Apakah kau tahu apa yang paling menyakitkan dari memberikan second chance? Kesalahan yang dulu terulang lagi.

Saat itu terjadi kau bisa apa? Cuma bisa meresapi rasa sesaknya dikecewakan dua kali. I say it because i did it. I give it. And i received it.

Karena semua ini juga tentang seberapa tegar kita menghadapi kehilangan. Walaupun, merelakan sesuatu yang berharga tidak akan pernah mudah.

Poskan Komentar