Selasa, 01 Juli 2014

DIE'ry of Ganda: Kucing, kecoa, dan ikan salmon

Pagi itu, aku tak mau membuka kelopak mataku dan lebih memilih lanjut tidur. Melanjutkan kembali mimpi indahku bersama clarin.

Sepuluh menit berlalu. Aku masih belum kembali ke kafe itu menikmati nasi gorengku dan clarin yang asik dengan spaghettinya.

"Kriiiiiiing" alarm kurang ajar itu selalu membuatku kesal setiap pagi. tanganku meraba - raba ke bawah bantal dan kudapatkan 'smartphone' yang tak lagi smart di jaman ini. Kubuka semua socmed yang aku punya tapi gak ada notifikasi apa apa. Iya. Aku jomblo. Kulirik angka di sudut kanan atas. Disitu tertera "07:24".

Aku terdiam. 1 detik… aku mencoba memahami ada sesuatu yang janggal. 2 - 3 detik… aku mencoba mengingat hari apa ini. 4 - 5 detik…  aku menghela nafas panjang. 6 detik…

"BRUAK!!!" SEORANG ANAK JATUH DARI BAWAH TEMPAT TIDUR DAN MEMINTAKU MENGANTARKANNYA KERUMAHNYA DI URANUS KARENA SEBENTAR LAGI ORANG TUANYA AKAN MENYERANG BUMI!

Gak, gak gitu.

aku mandi. jadi sesi ini hanya dilalui kira kira… 36,31 detik. Rekor minggu ini. Setelah rangkaian sesi sesi lainnya akhirnya tiba di sesi 'off-road-becek-jalan-lurus-belok-pas-simpang-tiga-terus-aja-belok-kiri-kandang-jerapah-terus-lagi-ada-pagar-warna-hijau-masuk'

segera kupacu kendaraan roda duaku dengan laju! Dan tanpa kuperdulikan orang orang yang memaki setelah kulewati karena ugal ugalan. Melanggar rambu lalu lintas sudah menjadi hal yang biasa bagiku dan pak polisi hanya mampu menatapku nanar.

Akhirnya sampai juga di depan gerbang itu. aku langsung masuk dengan kecepatan tinggi kedalamnya dan meletakkan sepeda gunung itu begitu saja.

Aku sudah hapal dengan jadwal guru piket yang akan menghukumku di hari sabtu. Pak dani. Diam diam aku menyelinap dibalik batang batang pohon. pohon ceri.

Tetapi si 'mata-empat-sialan' itu masih bisa melihatku. Cih!. "GHANDAAA!!!" Namaku menggelegar di seluruh penjuru sekolah. Suara pak dani merubah sekolah ini mendadak jadi pelatihan wajib militer. padahal tinggal 8 meter lagi aku selamat masuk ke kelas. Dengan pasrah aku menyerahkan diri kehadapannya dengan wajah penuh keringat dan boraks.

Setelah menjalankan lari keliling lapangan 3 kali akhirnya aku dibebaskan. Masuk kelas, belajar, istirahat, belajar, istirahat, belajar lagi, lalu pulang.

Saat diperjalanan pulang, dari kejauhan aku melihat seekor kucing berbulu putih bersih bermata biru. Aku menatapnya dengan penuh suka cita. Dia membalas dengan tatapan jijik.

"Hai kucing, kamu cantik deh, kenalan yuk?" Dia diam tak bersuara. "tenang aja aku bukan pencuri ginjal kucing kok, ikut aku pulang yuk?" Dia masih diam. "Dirumah nanti aku masak ikan salmon, Aku tau kamu biasanya makan ikan dencis bekas, nanti harga diri kamu jadi tinggi loh di dunia perkucingan" dengan ke sotoyan level 46 aku mencoba meyakinkan walau muka calon majikannya lebih seperti pembantu, tetapi berselera tinggi.

"Meong…" aku yakin itu artinya "Yaudah deh, aku ikut kamu pulang"  lalu aku menggendongnya dan naik kesepeda bersama. Di perjalanan aku bertanya pada si kucing "cing, kamu udah punya majikan belum?" Lalu dia memutar kepala memamerkan kalungnya. Disitu ada tulisan "felix" kurang ajar! Nama kucing ini lebih bagus dari calon majikannya.

Lalu aku berhenti sebentar dan berfikir. Ah! persetan dengan tuanmu yang dulu!!! Lalu aku melanjutkan perjalanan. Seperti itulah pemikiranku.

Sesampainya dirumah aku menepati janjiku sama di kucing. "cing, nih. Ikanmu." Tampak dia memakan ikan itu dengan lahap. Yang tanpa kusadari dia memakan ikan untuk makan malam nanti. "felix, aku gak suka nama kamu! Masa nama kamu lebih bagus dari aku? Kamu tuh harus menghargai aku! Kamu tuh harus belajar ngertiin aku!" Aku memakinya bagai seorang pacar yang tak bahagia dengan pasangannya. "Mulai sekarang nama kamu cing aja ya?" Dia diam tak perduli.

Sejak bertambahnya cing tinggal dirumah ini. Sekarang anggota keluarga jadi 5. Aku, tira kakakku, cing, sama sepasang kecoa.

Aku udah lama memperhatikan sepasang kecoa ini. Mereka tidak terlalu sering bersama. si jantan suka di kamar mandi, dan si betina lebih senang didapur. Tetapi setiap malam mereka selalu bersama. Meninggalkan kesibukan mereka yang entah apa itu aku juga gak ngerti.

Kak tira adalah orang yang hidupnya sangat liar. Pulang pagi adalah hal yang sangat wajar. Pacarnya bisa 2 bisa 3 tetapi tidak ada yang bertahan lama. Mereka tidak tahan dengan segala macam tingkah kak tira.

Meskipun begitu, dia adalah tulang punggung keluarga ini. Semenjak mama dan papa dipanggil yang kuasa.

Seminggu setelah cing menjadi anggota keluarga kami, dia mulai resah. Dia suka tidak menghabiskan makanannya. Mungkin karena dia sadar kalau itu bukan lagi ikan salmon 100%.      

setiap hari aku mengurangi ikan salmonnya 10% dan menyisipkan ikan dencis. Jadi sekarang dia itu makan ikan dencis pake salmon. Bukan salmon pake dencis. Kaya cinta di hati yang gak diberi asupan perhatian. Lama - lama porsinya akan dibagi oleh orang  yang lebih baik. awalnya ruangnya hanya sedikit. Namun waktu yang memperluasnya dan mempersempit 'ruang' itu di hatiku.

Cing juga suka melihat keluar jendela. Entah apa yang dia cari diluar sana. Mungkin ia merindukan majikannya yang dulu. Aku merasa kasihan kepada cing, lalu aku memutuskan untuk melepaskannya ditempat aku mendapatkannya. kupakaikan lagi kalungnya, dan kugendong cing menuju tempat kami bertemu pertama kali.

Akhirnya kami sampai di depan sekolahku. "eh cing, eh… felix! Kamu bukan kucingku lagi sekarang. Kamu bebas pergi berkeliaran di dunia perkucingan sekarang… Terserah kamu mau mencari majikanmu lagi atau hidup bebas". Lalu aku melepaskannya dari genggamanku dan meletakkannya di tanah. Dia berjalan pelan kedepan… memilih antara kembali, atau berlari. Aku tersenyum bangga. Seperti orang tua yang melihat anaknya sukses. Entah sama atau tidak entahlah pokoknya aku senang.

"FHEELIIIIIIIIIXXX!!!!!" tiba tiba suara itu sangat nyaring. Tepat di sebelah telinga kananku. Wanita bedebah. Lalu aku menoleh dan terdiam. sosok yang ada selalu menghiasi mimpi mimpiku selalu. Clarin.   

To be bersambung.

Posting Komentar