Sabtu, 11 Oktober 2014

'DIE'ry of Ganda: Matematika

Akhirnya bisa di publish juga tulisan ini. Sekolahku libur idul adha selama 6 hari, jadi dalam 6 hari terakhir aku udah nulis banyak tapi tetap dipublish 1 minggu sekali. Karena ini masih chapter ke tiga berarti tamatnya masih lama so, happy reading!

=========================

Dua bulan setelah ngedate pertama dan terakhir sama Clarin, aku masih merasa selalu diikuti kemanapun aku pergi. Mulai dari jalan ke sekolah, beli jajan di kantin, sampai masuk kandang babi sekalipun.

Rasanya seperti mereka siap menikamku setiap ada kesempatan, mirip film bergenre action yang paling aku suka.

Bercerita tentang seorang anak yang menderita cacat fisik diculik oleh pria misterius dan dibawa melintasi samudra. Namun ayahnya tidak tinggal diam, ia menempuh perjalan beratus-ratus kilometer demi anaknya. Diperjalanan sang ayah menghadapi rintangan yang luar biasa berat dan bertemu dengan seorang perempuan yang menderita cacat mental. Bersama-sama mereka mencari si anak.

Film yang sangat mengharukan! Menggambarkan cinta seorang ayah yang mengorbankan segalanya demi anak tercinta.

By the way, judul filmnya finding nemo.

Aku memutuskan untuk merenggangkan jarak dengan Clarin. Aku lebih memilih hidup nyaman dan bersahaja dari pada menjalani kehidupan percintaanku dengan bertaruh nyawa setiap hari.

Setelah pengalaman yang absurd dengan Clarin… dan kucingnya, aku memilih untuk tidak memikirkan tentang percintaan dulu. Aku sekarang lagi fokus kemasalah para pelajar. Nilai.

Ujian semester semakin dekat dan aku tetap belum mengerti apa itu matematika. I hate math. But i like money.

Orang yang berhubungan dengan matematika terbagi dua yaitu : orang yang suka dan orang yang ahli matematika.

Aku suka orang yang suka matematika. Aku selalu dekat sama anak yang suka matematika terutama yang sekelas denganku. Salah satunya Wita. Ya, tujuanku tidak lain adalah murni untuk menambah ilmu pengetahuan (baca:nyontek).

Tapi meskipun begitu, aku juga benci dengan orang yang ahli matematika. karena jika dia ahli… dia pasti guru… matematika. Aku sampai sekarang masih bingung kenapa hubunganku dengan guru matematika gak pernah langgeng. Enggak, bukan langgeng pacaran, seleraku bukan tante-tante.

Aku jadi membayangkan kalau suatu hari nanti di masa depan aku menikah dengan seorang guru matematika lalu suatu pagi akan ada kejadian seperti ini;

"Wake up dear…" Bisikan itu terdengar samar-samar di telinga kiriku. Kemudian aku membuka mata dan yang aku lihat pertama kali adalah senyuman yang tergores indah di wajahnya. Lalu perlahan aku mengecup keningnya. Kemudian mendadak wajahnya berubah sangar bagaikan bekantan mau aborsi. Lalu menyodorkan secarik kertas memo dan meminta uang belanja yang kira-kira akan jadi seperti ini:

"Mas…… Integral dari 3 sin 3x sin adalah 2x dx !
tentukan pertidaksamaan linear 2 variabel antara harga toge dan harga cabe! Jika jarak dari rumah kita ke indomaret adalah 23 milimeter!!!" Lalu dengan cekatan, tegas, dan lugas aku… pura pura mati.

Terus begitu setiap pagi hingga suatu hari aku ditemukan tergeletak didepan buku matematika tidak bernyawa dalam kondisi mandul.

Tentu saja aku gak mau bernasib seperti itu. Maka untuk menghindari mati konyol seperti itu, aku bertekad untuk berhenti mencontek dan mulai belajar pada Wita.

Wita memiliki rambut panjang yang selalu diikat ponytail dan selalu memakai kacamata. Kulitnya putih bersih karena tidak pernah dijamah matahari. Wita punya kebiasaan aneh, dia suka pake jaket mau seperti apapun cuacanya tanpa merasa kepanasan.

Pada saat istirahat aku mendatangi kantin tempat Wita biasanya menghapal rumus sambil makan bakso sambil nyemir sepatu.

"Hai wit, aku mau ngomong sesua…" "sst! Utang… 20 ribu" belum sempat aku mengajukan permohonan aku sudah ditodong masalah finansial.

Lalu dengan berat hati aku menyerahkan dua lembar uang bergambar Pattimura lalu berkata "Nyicil ya" dengan nada memelas sambil tangan memegangi perut berusaha semirip mungkin dengan janda miskin yang ditinggal suaminya pergi jadi TKI di kutub utara.

"Wit, ajarin aku matematika dong. aku lelah melakukan perbuatan hina itu lagi. Aku… aku… merasa kotor…" Wita sedikitpun tidak tersentuh dengan pernyataan barusan dan malah melahap baksonya bulat-bulat.

"Kalo aku ajarin, aku dapat apa?" Tantangnya seraya mengemut semir sepatu.

"Aku bayar! berapapun!"  Jawabku dengan sangat optimis seraya menyambar teh botolnya. Belakangan aku sadar ternyata itu botol kecap.

"Deal!" Wita sangat tergiur dengan kata 'berapapun'. Dengan mantap Wita menyalam tanganku sebagai tanda sah.

Setelah  kami bersalaman kemudian aku meminta nomor hapenya dan alamatnya lalu pergi sebelum dia sempat mengingat utang- utangku yang lain. Aku kembali teringat saat mencari rumah Clarin, tetapi kali ini tidak akan seperti itu karena aku tahu daerah rumahnya Wita.

Dari kejauhan aku melihat Wita kejang kejang dengan mulut berbusa yang tersumbat semir sepatu. Ah, mungkin dia terlalu senang.

Sesuai dengan perjanjian, akupun mendatangi rumah Wita saat jam 3 sore. Saat itu sedang bulan purnama dan mahabrata tak kunjung tamat, oke abaikan.

Kami memulai kelas.
Kemudian kami membuka buku.
Kemudian Wita mulai menerangkan.
Kemudian aku mulai serius.
Kemudian Wita memberi soal.
Kemudian aku menjawab.
Kemudian Wita marah-marah karena aku salah.
Kemudian aku mulai pusing.

"Ganda! Cukup… aku udah gak kuat…aghh" kata Wita dengan nada lirih.

"Tidak!!! Bertahanlah, ayo kita coba lagi!" Wita tak kuasa menghadapi kejeniusan otakku.

Hening. Didalam keheningan ini Wita tersenyum padaku dan berkata "aku senang".

Aku mengerutkan dahi tanda tidak mengerti. Jelas-jelas selama 2 jam lebih dia menerangkan tapi aku cuma bisa mengerjakan 5 soal dengan benar.

Lalu Wita berkata "Aku senang karena kamu gak mau menyerah pada kekuranganmu dan mau berusaha, kamu bisa aja nyontek sama aku terus selama aku masih hidup… yah, walaupun hidupku gak lama lagi".

"loh, kamu sebenarnya kenapa Wit?" Aku menanggapi dengan serius.

"Enggak cuma becanda, hahaha!" Wita mengelak "Sumpah gak lucu!" Lalu Wita cengengesan.

Setelah 3 jam yang hampir sia-sia itu, aku merasa sangat lega, setidaknya ulangan besok aku gak akan dapat 40 lagi. Mungkin 42,3 atau 40,0000001.

Wita mengantarku sampai kedepan pagar rumahnya. "Jangan sia-siain perjuangan kita hari ini ya Gan" aku mengangkat tangan tinggi-tinggi dengan jempol terangkat lalu teriak "PASTI!!"

Wita tersenyum. Senyuman lembut yang disinari oleh cahaya mentari petang, cantik. Hanya itu yang ada dipikiranku saat itu. Aku mulai berpikir kenapa baru sekarang aku menyadari kecantikannya. Damn… i'm fallin again.

"Wit, hidung… kamu keluar da…" "bruk!" belum sempat aku menyelesaikan kalimatku Wita sudah ambruk.

Aku panik setengah mati, mungkin karena terlaku panik aku kebingungan lalu teriak-teriak gak jelas di depan rumah Wita layaknya banci yang menyadari kalau dirinya hamil diluar nikah.

Teriakanku memancing ayah Wita keluar rumah kemudian kami bersama menggendong Wita kedalam mobil dan segera dibawa kerumah sakit terdekat.

30 detik kemudian aku baru sadar kalau aku ditinggal… oleh mobilku sendiri. Aku kembali teriak-teriak layaknya banci yang mau diaborsi.

To be bersambung…

Posting Komentar