Rabu, 06 Agustus 2014

'DIE'ry of Ganda: Bapak bertato

Akhirnya setelah berpikir keras dan agak mengeras *eh aku berhasil menyelesaikan lanjutan cerita lanjutan dari "The 'DIE'ry of Ganda: kucing, kecoa, dan ikan salmon". Maaf untuk kalian milyaran orang yang udah nungguin kelanjutannya sampai ada yang udah mau mati gak jadi mati. Maaf banget karena udah mengganggu sakaratul mautnya.

Mungkin yang belum baca bisa di baca disini atau disini mungkin juga disini. Oke cekidot!

"E…eh… cla.. rin" aku menyapanya dengan nada sok kull. Dan tanpa pipis di celana. Oh, aku berhasil menyapanya kali ini. Clarin terlihat cantik dengan pakaian olahraga dan wajah yang penuh keringat. Subhanallah.

"Oh! Jadi kamu ya yang selama ini nyulik felix?!" terlihat kukunya mulai menjadi tajam semua.

"Engga… enggak bukan. Ini salah paham!" celanaku mulai basah.

"Ada apa ini?" Terlihat tubuh bongsor hitam pekat mendekati kami. "Ini om! Dia yang nyulik felix!!"

"Enggak kok… aku bisa jela…" terlambat. Kepalan tangan yang sebesar semangka itu sudah melesat. Pandanganku mulai kabur. Aku pingsan.

"Hei… bangun hei…" BYUR! Sontak aku terbangun dan spontan berteriak "HAAAH TIDAAK TIDAAAK MENJAUHH!!!! JANGAN TANGKAP AKU!!"

"KYAAAAAAA" plak!. Tamparan itu membuatku sadar.

Setelah berhasil meyakinkan Clarin bahwa aku benar benar sadar dan juga bukan buronan, akhirnya aku menjelaskan bagaimana aku dan felix bertemu. Pertemuan kami di akhiri dengan tukeran nomor hp

---

Kubuka mataku untuk mengakhiri kenangan pahit dua minggu yang lalu. Hari minggu ini aku udah janjian sama clarin mau nonton. Aku berangkat lebih cepat 4 jam agar tidak telat.

Karena telah berpengalaman jadi anak hilang di kebun binatang 6 kali dan kerap di kira simpanse, aku bertanya pada warga di sebuah kedai dimana tepatnya alamat rumah Clarin agar tidak terjadi kejadian serupa.

Disana ada seorang bapak bapak paruh baya yang badannya full tato dari mata kaki sampai bulu ketiak. Wajahnya yang sangar mampu membuat banci banci pro lari terbirit birit.

Dengan birahi yang membara aku mulai bersuara "om, alamat ini dimana ya? " sambil menunjukkan layar hpku padanya dengan jarak agak jauh. Karena bukan tidak mungkin bapak itu tidak mengigit.

"Terus, belok kiri, ketemu indomaret belok kanan, terus aja nanti di simpang 4 belok kiri ada rumah pagar biru di halamannya ada 5 sepeda motor" dengan detail dan spesifik si bapak menjelaskan dengan mantap. Aku cuma bisa mengangguk pelan.

Dari tampangnya bapak itu gak bisa dipercaya. Bisa aja itu rumah markas perdagangan manusia terus nanti aku dijual ke rusia.

Kemudian dengan berat hati aku berkata pada batinku "why not? Bad choice can make an amazing story right?"

Setelah mengumpulkan chakra ke jempol kanan, kutekan tombol itu dan menanti pintu besar ini terbuka. Aku sudah menyiapkan rasengan jika ada seekor naga berkepala belalang yang keluar.

Ternyata bapak itu benar. Dari balik pintu itu keluar Clarin. Tiba tiba dari belakang ada yang menepuk pundakku.

"Cari apa kamu?" tunggu, aku kenal suara ini. Perlahan aku menoleh dan…

"Eh papa pulang, udah di beli cabe yang disuruh mama tadi?"

BUSHTETS!!! THIS IS SO……… i'm out of words.

Aku hanya terpana melihat kejadian langka ini. Ekspektasiku akan kehidupan bapak ini yang tadi sangat horor. Berubah seketika.

Tadinya aku berpikir bapak ini adalah preman yang paling disegani di kampung ini dan suka makan ikan lele hidup - hidup.

Kenyataannya ternyata bapak ini hidup nyaman dan mapan. Rumahnya besar, mobilnya 2, motornya 5, rumput dirumahnya hijau, anaknya cantik. Dan satu lagi, takut istri cyiiiin…

"Pa, Clarin pergi ya sama Ganda mau nonton nanti pulangnya agak malam"

Kemudian papa Clarin menatapku dengan tajam "Ganda, kemari kamu…" aku hanya nurut aja dan kami menjauh beberapa langkah dari clarin. Sekitar 10 kilometer.

"Kamu jaga baik baik anak saya, jangan pikir kamu bisa seenaknya dengan anak saya. Saya adalah mafia terbesar nomor 6 se-indonesia. Jika kamu ingin macam macam dengan anak saya lebih baik kamu berpikir lagi! karena saya selalu menyuruh 5 orang anak buah saya untuk menjaga clarin kemana pun dia pergi, kamu paham?" Aku hanya mengangguk sambil gemetaran dan berharap gak kencing di celana. Terjawab sudah misteri orang yang membuatku pingsan waktu itu.

Akhirnya kami pergi juga, karena filmnya masih lama akhirnya kami memutuskan untuk makan dulu. Tentu saja aku menyadari ada 5 orang bertubuh tegap rata rata tingginya 2 meter mengikuti kami. Aku nonton dengan perasaan tegang. Bukan karena di film itu ada nikita mirzani. Enggak. Tapi karena mereka berlima tepat dibelakang kami.

Selesai nonton, aku berhasil menghindar sejenak dengan cara naik lift. Tapi tidak untuk waktu yang lama karena terlihat mereka berlima berhamburan menuruni tangga darurat, damn.

Ternyata dugaanku salah, lagi. Papa Clarin tidak sebaik yang kukira. Dia lebih parah dari perkiraan pertamaku. Aku mulai berpikir kenapa seorang mafia terbesar ke 6 se-indonesia rela disuruh beli cabe sama istrinya? aku tidak bisa berhenti berpikir atas keanehan ini.

"Film tadi so sweet banget ya Gan, cowonya rela menjual semua asetnya hanya untuk menunjukkan pada si cewe bahwa dia sudah tidak lagi hidup bergelimang harta yang haram dan membuktikan bahwa dia sanggup hidup mandiri, meskipun pada akhirnya hubungan mereka tidak bertahan lama".

Aku cuma diam aja menyimak cerita Clarin tentang film tadi yang sama sekali tidak aku simak.

"Yang aku lihat gini, bahwa orang seperti apapun punya hak memiliki kehidupan yang lebih baik. Walau mereka tidak cukup baik. Karena yang tidak baik itu mereka, bukan orang yang mereka sayangi" secara tidak langsung Clarin menjawab pertanyaan itu.

Aku telah memahami jalan pikiran papa Clarin. Selama ini aku terlalu mengedepankan logika dalam urusan cinta. Aku lupa kalau cinta sejati bukan dilihat dari harganya, tapi dari ketulusannya.

Kemudian dengan lembut aku menggenggam kedua tangan Clarin dan tersenyum. Clarin terlihat kebingungan.

Saat kuantar pulang dari balik kaca jendela terlihat sepasang mata yang berapi - api menatap tajam kearahku. Aku membalasnya dengan senyuman dan segera membawa diri dan

Posting Komentar