Minggu, 20 Juli 2014

Ketegaran Risti, keraguan Ike, dan kebodohan Danar

Aku terdiam membeku. Tak berkutik. Tak bisa bergerak. Berdiri tegak di hadapan dua kursi dan satu meja bundar terbuat dari stainless steel.

"Dan, aku mau kamu jujur…" Ike berbicara tetapi enggan menatapku langsung. Ike yang duduk di kursi sebelah kanan membuka sidang ini. nada bicaranya yang halus dan bergetar, tak seperti yang kukenal.

"Ike udah cerita semuanya… tapi aku ingin dengar langsung dari mulutmu dan" Risti berkata dengan nada yang halus dengan kata yang sopan. Kemudian dia menatap Ike dengan lembut seolah tidak ada sedikit pun rasa benci.

"Danar, aku gak mempermasalahkan di jadikan nomor dua… tapi aku gak pernah mau dibagi" kedua wanita ini mencoba membunuhku dengan halus. Ike bangkit dari posisi duduknya seakan menunjukkan bahwa dia memberontak karena sudah muak dengan permainan hati yang sedang kami lakukan bertiga.

Pelayan di kafe itu baru saja berlalu setelah berdiri beberapa detik menyaksikan ketegangan antara kami bertiga. Semua pengunjung kafe itu berpura pura tak melihat kami, seolah tak merasakan aura yang menyesakkan ini.

Aku mengambil posisi duduk diantara mereka berdua. Mencoba mengalirkan kembali darahku ke bagian kepala.

"Ris, aku cinta sama Risti, kamu harus terima itu… dan kamu Ke, kamu memang orang yang selalu ada untuk aku, tapi aku lebih dulu dimiliki Risti" Ike hanya menatapku. Tidak, dia sama sekali tidak menatapku… tatapannya benar benar kosong. lalu perlahan menurunkan pandangannya.

Berbeda dengan risti, matanya berkaca kaca. Wajah putih susunya perlahan memerah. Pemandangan yang sangat tidak menyenangkan.

"Kamu gak bisa mempertahankan kami berdua… Kamu harus mencampakkan salah satu diantara kami" Air mata Risti mulai menetes. Aku hanya menggeleng perlahan.

"Ike, Danar cowo yang baik, kamu cocok bahagia dengan dia…" risti langsung bangkit dan beranjak pergi. "Jangan pergi ris, aku belum selesai" aku menggenggam erat tangan Risti.

"Mana yang lebih dulu kamu cintai Dan? Aku? Atau ike?" Risti berbicara tapi tak menoleh.

"kamu Ris! Kamu!! Aku cinta sama kamu!" Aku membentaknya.

"Berarti kamu memang lebih pantas sama Ike… aku percaya kalo aku adalah orang pertama yang ada dihatimu… tapi kamu selingkuh sama ike… itu bukan salah kamu, aku yang kurang pantas untuk kamu"

"Ris…" aku menoleh kearah Ike. Ike sama sekali tak sanggup membuka mulut.

"Ini akan jadi pelajaran buat kamu Dan, kalo kamu bingung memilih diantara orang pertama dan orang kedua, pilih orang kedua… karena kamu gak akan mencintai orang kedua kalo kamu tulus mencintai yang pertama" perlahan Risti menjauh seiring melemahnya genggaman tanganku.

Tanpa kusadari perlahan Ike merangkulku dari belakang seraya menyandarkan kepalanya di bahuku. seolah ingin menunjukkan bahwa sekarang aku hanya miliknya.

Risti berlari keluar kafe menuju ke mobilnya menembus hujan. Dari kejauhan terlihat cahaya datang mendekat, lalu cahaya itu berlalu seiring tergeletaknya Risti di tengah jalan. Sontak aku langsung berlari ke tempat risti tergeletak berharap dia masih benar benar berada disana. Diikuti oleh para pengunjung kafe.

"Ris, bangun… Ris…" Aku mengusap darah yang berceceran di kepalanya. Air hujan turut membantu membersihkannya. Orang orang di sekitar mulai mengelilingi kami, tapi tak ada Ike diantara mereka. Ike terduduk dan menangis didalam kafe.

Dua minggu setelah pemakaman Risti, aku duduk termenung di taman di temani Ike. Aku masih belum bisa menyingkirkan rasa bersalah ini. Bahwa kepergian Risti adalah salahku.

"Dan, kamu nyiksa Risti kalo kamu terus terusan gini… aku juga sedih atas kepergian Risti" ike meletakkan kepalanya di pahaku

"Aku yang akan menggantikan posisi dia dan, aku janji." aku hanya tersenyum sambil membelai rambut sebahunya.

"Aku memang masih belum memilikimu sepenuhnya, tapi aku akan menunggu saat diamana kamu berhenti mengunjungi makam Risti setiap hari" Ike tersenyum lembut.

Risti memang telah pergi. Tapi aku tidak akan melupakan pelajaran terakhir yang telah di berikannya untukku. Bahwa mendua, bukanlah pilihan. Kesetian memang bukan hal yang mudah. Tapi patut di perjuangkan.

Posting Komentar