Kamis, 12 Februari 2015

Pacar, sahabat, dan musang

Well its saturday nite! No, just kidding, it's friday nite! What? Kita gak harus nunggu malam minggu untuk bikin sesuatu atau memulai sesuatu, ya kan??

Sebenarnya, aku gak tau mau nulis apa, tapi kalau gak mulai nulis, kapan lagi ngepost diblog tercinthah ini.

Sekali lagi, tercinthah… Cieeeh~

Belakangan ini hidupku sangat menyenangkan, tidak seperti biasanya. Biasanya ada aja derita atau petaka lalu setelah itu muncullah kesenangan atau mungkin kali ini Dijah yellow akan go international? Entahlah, mungkin suatu hari saat kiamat nanti. Gak perlu mikir terlalu jauh ah, kalo memang akan terjadi ya terjadi aja.

Kita semua punya orang yang selalu bikin kita kecewa, bikin kita emosi, sampai bikin kita mau salto-kebelakang-lalu-berdiri-satu-kaki-diatas-ikan-paus. Capekkkan bacanya? Itu biar kalian percaya aku nulis sambil emosi. Orang emosi nulis gak pake spasi.

Ya, aku juga kenal orang itu, tapi bodohnya, orang itu juga adalah tempatku untuk berbagi cerita yang kebanyakan gak penting, ngutangin dan entah dibayar kapan, dan selalu minjamin hape saat dia mau nonton… ah sudahlah, yang jelas, paginya kuotaku menipis secara signifikan.

Mau berantem berapa kali pun ujung-ujungnya tetap baikan. Hari ini hampir bunuh-bunuhan, besoknya udah peluk-pelukan. Aneh, jelas lebih banyak gak enaknya tapi tetap aja dekat. Yep, it's kind of complicated relationship, sahabat.

Aku juga punya sahabat. Kami melakukan banyak hal bersama, positif, dan negatif kami lakukan bersama. Ya, meskipun negatif sangat mendominasi. It's complicated.

Seperti remaja lain, kami juga jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada seorang cewe yang kupanggil pacar setelah beberapa bulan jomlo. Enggak, kalian gak salah baca. Ejaan yang sebenarnya adalah jomlo, bukan jomblo. Meskipun dalam pengucapan lebih enak jomblo.

Setelah pedekate kira-kira sebulan lebih kamipun pacaran. Hubungan kami langgeng-langgeng aja dan baik-baik aja sejauh ini. Enggak, becanda. Dia sering marah karena hal kecil yang sebenarnya sepele, entah itu bagus atau enggak tapi aku menikmati setiap waktu dalam hubungan kami. Tapi kata orang berantem itu bumbu hubungan toh. Sampai sekarang kami masih meributkan apakah aku adalah berondong atau bukan karena dia lebih tua satu tahun. Apalagi, dia sekarang lagi baca novel yang judulnya "Cinta ini, bener-bener cinta yang kurasa dalamnya cinta sama brondong" ya, kedengarannya seperti judul cerita dewasa.

Sahabatku? dia juga jatuh cinta pada seekor musang ganteng yang sering joging di raw
a-rawa dan juga situs bokep Yes xx *FYI, kalo mau buka pake unblock web, bokepers pasti tau*

Semuanya terasa sangat menyenangkan, aku dengan kebahagiaanku lebih tepatnya pacarku, dia dengan musang ganteng dan situs bokepnya.

Ya, semuanya terasa sangat menyenangkan. Seperti semua manusia lainnya, aku lebih tertarik dengan hal yang lebih baru. Sampai aku sadar, kalau sekarang kami sudah memiliki jarak. Kami tidak seintensif dulu lagi, kami sudah jarang bahagia bersama lagi, kami juga jarang susah bersama lagi. Aku terlalu sibuk dengan kebahagiaan baruku sendiri sampai lupa dengan siapa aku dulu bahagia.

Aku tidak nyaman didalam kebahagiaan seperti ini. Aku adalah orang bodoh yang gak tau diri karena tidak menghargai momen-momen saat aku bisa bahagia, tapi aku akan lebih malu kalau sanggup melupakan orang yang berada disebelahku saat aku susah, sahabat.

Sekarang, aku mulai berusaha adil membagi waktu untuk berbahagia dengan siapa, karena aku tau, pacar tidak selalu ada saat kita kesulitan. Aku butuh dia, sahabat.

Poskan Komentar